Sabtu, 26 Desember 2015

Saat kau putuskan smua, telah kau layat senja dalam hatiku, katamu semua serba tiba-tiba, seperti rayu melati pada rimbun tanah berisi kenangan yang rapi disamarrekah bunganya.Aku memang menemui punggungmu; sengaja kubiarkan ruhmu berlalu di sepanjang penghubung antar pintu. Iya. Pasti pusara itu, yang masih basah sebab terlalu banyaknya air mata. Segala yang rebah di sana hanya cakrawala duka dan semesta luka.Segenggam kembang telah kau tebar di sana, mungkin kau mulai paham kebiasaanku merawat kepedihan, biar kenang yang telah selesai bersemayam dengan tenang. Supaya tak perlu lagi mati suri.
by ratuviha

Tidak ada komentar: