Saat kau putuskan smua, telah kau layat senja dalam hatiku, katamu semua
serba tiba-tiba, seperti rayu melati pada rimbun tanah berisi kenangan
yang rapi disamarrekah bunganya.Aku memang menemui punggungmu; sengaja
kubiarkan ruhmu berlalu di sepanjang penghubung antar pintu. Iya. Pasti
pusara itu, yang masih basah sebab terlalu banyaknya air mata. Segala
yang rebah di sana hanya cakrawala duka dan semesta luka.Segenggam
kembang telah kau tebar di sana, mungkin kau mulai paham kebiasaanku
merawat kepedihan, biar kenang yang telah selesai bersemayam dengan
tenang. Supaya tak perlu lagi mati suri.
by ratuviha
by ratuviha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar