| tutup kembali ruang sunyiku, pekik kupu kupu sambil melepas helai demi helai sayap halusnya kilau cahya ini kelewat menyengat dan duri duri mawar kelewat nyeri menggores nadi biarkan aku diam, terayun di kepompong sunyi sambil mereka reka derai musim yang berhembus dari seberang lautan kelak, jika perahu itu benar tiba kembali bakal kumekarkan klopak sayapku agar mengepak lembut songsong kehadiranmu |
| merataplah dengan ronta sukma lukamu tapi jangan lelehkan air mata bumi padang haus sahara tandus cinta berbunga dusta |
| meskipun wajahmu tak secantik bidadari yang kuinginkan
tapi laramu mendekap
dalam laraku seiring katamu seirama dengan kataku helai nafasmu bersatu dengan nafasku di kala kubersemedi dalam relungmu dikala dagingku bersemayam dalam jasadmu aku pun tak akan berpaling sepanjang dunia tak hancur ditelan rayap keropos sampai akhir tahun |
| ada yang slalu menghilang saat aku tiba engkaukah itu yang menyulut kedamaian kangenku dengan cemburu? |
| biarkan buih ombak itu mengekal di gigir karang memukat kilau rembulan makasih : lena panjangku terjaga oleh kangen dan keridloan cintamu |
| kelak, jika musim kakawin itu benar tiba kembali bakal kumekarkan klopak sayapku agar mengepak lembut songsong kehadiranmu |
| Diantara rintik grimis.. Dahaga ..tuntas lepas.. Pekik lirih isak manja.. Lepas tak terbatas.. Bukan siapa atw kenapa.. Biarkan sejenak bahagia… Bisik mesra gulita malam.. Geliat resah…kerinduan.. |
| Cemburu.. Membuat rindu.. Hanya CINTA.. Merubah cerita… Bulir air mata.. Membasuh luka.. Mendekap hangat.. Asmara jiwa Merajuk..lirih… Rengek ..manja… Senandung Rasa.. Memeluk erat.. Tanpa Prasangka… Saat kau dan aku.. Tak ber’jeda… Hening tanpa kata.. Desah yg mereda… |
| Tetes hujan seharian membasahi bumi Melarutkan debu di jiwa yang menggeletar Dingin menusuk hati yang gersang Merindu…. |
| yang teriris, cinta apa jiwamu? selepas gerimis klopak kangenmu merona di cendela sukmamu yang letih kerna lama teronggok di ruang tunggu
saat kau singkap lembar harimu
ada yang tersisa cercah harapan di lubuk setiamu |
| kusapa sunyimu dengan kangen dan cemburu mengertikah engkau? |
| bagaimana aku bisa menolak anggur yang kau tuang dengan tangan tangan kasihmu sekalipun aku mengerti jiwaku akan terbakar olehnya? |
| kau tullis pesan di balik kaca buram oleh tetes air mata kisahmu : tlah kupertaruhkan jiwa sibak lembar demi lembar mega mega lampaui benua, gigil musim dan aroma letih kerja
tapi diam diam kaupungut satu demi satu tetes air mata itu
memercikkan beningnya di luka cintaku pedihnya, pedihnya |
| engkau menyelam ke dasar palung berharap ujung jari kaki tanganmu menyentuh mutiara yang ditaburkan gelombang
nafasmu bagai menara ikan paus
cinta tlah berbaur amarah dan kesumat masa lalu meski angin tak bersahabat engkau terus menyelam ke dasar palung tak peduli pori kulitmu mengelupas dan tanduk bunga karang menggoreskan nganga lula tembus ke lubuk jiwa |
| masuklah ke dalam tubuhku, bisik kabut pada derai gerimis yang turun di ranting senja engkau akan temukan sukmaku menggigil, merintih mengeratkan genggaman tangan ke dada sambil menyebut namamu bagai tangis bayi yang terjaga di senyap malam
aku letih, tapi kakiku tetap harus berjalan
meretas belukar, mengemas duri duri mawar bagi geliat cemburu yang menyembilu di dada aku letih, tapi jejakku belum sampai dan muara yang kurindu belum juga terlihat terhijab gelugut daunan aku letih, dan malas bermimpi tentang jejak sepasang kaki kekasih di bawah kilau rembulan |
| please, diamlah ingin kuterka geliat sukmamu yang meretas kabut kangenku |
| secangkir kopi, atau segelas teh kangen aku, jemari lentikmu yang meraciknya lantas kau sajikan di meja kerjaku sebagai pembuka matahari kapan ya.. semua ini tak sekadar mimpi |
kupeluk engkau dengan jiwaku
agar gigil musim tak membuat darah
dan cintamu beku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar